• 1-800-123-789
  • info@webriti.com

Dongeng

Related image

Pada jaman dahulu kala, ada seorang tua bertempat tinggal di Pegunungan Penanggungan, Kawedanan Gempol, Kab. Bangil, Karesidenan Pasuruan yang bernama/disebut Kyai Gede Penanggungan, yang mempunyai seorang adik perempuan janda dan berumah di Ijingan, Kecamatan Pungging, Kawedanan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Karesidenan Surabaya.

Kyai Gede Penanggungan mempunyai 2 orang anak perempuan, yang sulung bernama Nyai Lara Walangsangit. Dan yang bungsu disebut Nyai Lara Walangangin. Kedua-duanya bertempat serumah dengan Kyai Gede Penanggungan.

Selengkapnya..

Janda Ijingan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Jaka Walangtinunu. Setelah akil balgi ia amat bagus dan sangat hormat kepada ibunya. Pada suatu hari ia menanyakan kepada ibunya, siapakah ayahnya? Tetapi ibunya tidak mau menjawab dan hanya berkata: “Kamu tidak mempunyai ayah, tetapi Kyai Gede Penanggungan adalah kakak saya!”. Kemudian Jaka Walangtinunu meminta ijin ibunya, untuk membuka hutan untuk tempat tinggal dan penggarapan sawah. Permintaannya dikabulkan oleh ibunya. Maka berangkatlah Jaka Walangtinunu disertai 2 orang temannya dari Krandan (Ijingan) bernama Sebalong dan Satim menuju ke dukuh Kedukras (sekarang Desa Kesambi), Kawedanan Ploso. Setelah menetap di sana, tanpa suatu rintangan apapun, mulailah mereka membabat hutan rimba Kedung Suko, arah utara Kedukras atau sekarang disebut Desa Pesawahan dan sebelah selatan Desa Candi Pari.

Beberapa waktu kemudian, pada suatu malam teman-teman Jaka Walangtinunu dengan sepengetahuannya memasang wuwu di kali Kedung Suko. Esok harinya wuwu diambil, dan ternyata berhasil menangkap seekor ikan kutuk (gabus) besar, yang dinamakan “Deleg”.

Betapa gembiranya Si Sebalong, kemudian ditunjukkannya kepada Jaka Walangtinunu dan Satim, yang di mana ikan tersebut akan dipotong dan dimasak. Akan tetapi ajaibnya, ikan tersebut dapat berbicara seperti orang dan menerangkan bahwa ia sebenarnya bukan ikan. Tetapi seorang manusia. Bahwa dulu bernama Sapuangin yang mengabdi pada petapa dari Gunung Pamucangan. Dan ia berdosa kepada petapa itu karena ia pernah melahirkan suatu keinginan untuk menjadi raja. Dan ia hanya diperkenankan menjadi raja ikan. Dan demikian maka berubahlah ia menjadi ikan kutuk.

Waktu Jaka Walangtinunu mendengar riwayat deleg itu, ia sangatlah terharu dan berkata: “Barang siapa berasal dari manusia, kembalilah menjadi manusia lagi!”. Dan seketika juga, Si Deleg berubah menjadi manusia kembali. Sebagus Jaka Walangtinunu. Selanjutnya diberi nama Jaka Pandelegan dan dianggap sebagai adiknya sendiri. Demikian mereka bersama-sama mulai membuka tanah hutan dan saban hari mengolah tanah.

Kemudian Jaka Walangtinunu memikirkan soal bibit, tetapi menemui jalan buntu. Sebab ia sangat miskin, tidak mempunyai apa-apa untuk membelinya. Namun, tiba-tiba ia teringat apa yang dikatakan ibunya dulu. Bahwa Kyai Gede Penanggungan, yang merupakan pakdenya, mempunyai padi banyak dan Jaka Walangtinunu bertekad bersama-sama dengan Jaka Pandelegan untuk menghadap memperoleh (meminta) bibit padi.

Setibanya mereka di Gunung Penanggungan, mereka bertemu dengan Kyai Gede beserta istri dan kedua orang anaknya. Namun Jaka Walangtinunu tidak berani menyampaikan isi hatinya kepada Kyai Gede. Oleh karena itu maka permohonan akan bibit disampaikan kepada istri Kyai Gede (Nyai Gede) yang selanjutnya diteruskan kepada suaminya. Namun ia tidak percaya, jika bibit itu akan benar-benar dipergunakan untuk bersawah. Berdasarkan atas pemikirannya, bahwa Jaka Walangtinunu sangat miskin dan karena itu ia menderita kelaparan.

Sebaliknya, kedua orang anak perempuan Kyai Gede sewaktu melihat kedatangan Jaka Walangtinunu dan Jaka Pandelegan memiliki asmara dalam dada masing-masing karena terpikat oleh kebagusan dan sopan santun kedua tamu itu.

Baru pertama kalinya kedua orang gadis itu melihat pemuda-pemuda yang begitu tampan, namun apa lacur, mereka sangat kecewa bahwa permohonan di atas tidak dikabulkan dan hanya diberi mendang yang apabila disebar tidak mungkin akan tumbuh menjadi padi.

Ketika mereka diperintahkan untuk mengambilkan mendang yang dimaksud, maka kesempatan ini dipergunakan untuk menyampurkan beberapa genggam gabah yang kemudian diserahkan kepada kedua pemohon itu, sedangkan Kyai Gede mengatakan: “itulah bibitnya”.

Setelah menerima mendang satu karung, mereka memohon diri dan karena terdorong oleh cintanya kepada mereka, kedua gadis tersebut juga memohon ijin kepada ayahnya untuk mengikuti kedua jejaka itu, tetapi tidak diperkenankan.

Karena kedua dara ini sudah jatuh cinta kepada kedua pemuda tersebut, maka mereka memesan kepada kedua pemuda tersebut agar senang untuk memberitahukan kepada Kyai Gede mengenai tanaman/pertaniannya.

Ketika tiba di rumah, cepat-cepatlah mereka menebar mendang dengan mendapat ejekan serta tertawaan dari Sebalong dan Salim karena apa yang mereka sebarkan itu tidak akan tumbuh menjadi bibit padi.

Namun demikian Jaka Walangtinunu hanya menjawab bahwa ia percaya atas keterangan Kyai Gede bahwasannya itulah yang dinamakan bibit padi, yang dengan sendirinya memang itulah sungguh bibit padi. Kemudian ternyata memang tumbuhnya sangat baik, benar-benar sama dengan padi yang sesungguhnya.

Waktu pemindahan tanaman tiba, Jaka Walangtinunu dan Jaka Pandelegan datang lagi ke Kyai Gede untuk memohon ijin agar kedua orang putrinya itu membantu menanam, tetapi tidak dikabulkan, malahan Kyai Gede marah. Mendengar permohonannnya ditolak, dengan dalih kedua-duanya telah dipinang oleh Raja Blambangan. Padahal mereka sudah sama-sama cintanya. Dan kedua jejaka itu pun kembali ke desanya, dan kedua perawan itu ikut menyusul melarikan diri. Dewi Lara Walangsangit ingin menjadi istri Jaka Walangtinunu dan Dewi Lara Walangangin berhasrat menjadi istri Jaka Pandelegan. Dan mereka pun bertemu dengan jejaka-jejaka itu di tengah jalan dan selanjutnya bersama-sama menuju Kedung Suko.

Sesudah Nyai Gede mengetahui bahwa putri-putrinya tidak ada lagi di rumah, maka ia memberitahukan kepada suaminya. Kedua orang tua itu mengejar dan berhasil bertemu di tengah jalan sebelum sampai di Kedung Suko.

Mereka diberhentikan dan kedua putrinya dipaksa untuk kembali, tetapi ditolaknya oleh Jaka Walangtinunu. Diminta untuk mengembalikan namun tidak diindahkan. Sebab kedua putri itu ikut serta atas kehendak sendiri.

Maka terjadilah suatu pertengkaran yang berakhir dengan kekalahan Kyai Gede Penanggungan. Sehingga terpaksa pulang kembali ke rumahnya. Sedangkan Jaka Walangtinunu berempat meneruskan perjalanannya ke Kedung Suko untuk melaksanakan rencana yaitu: pencabutan bibit (ndaut), dari persemaian (pinihan), menempatkan pocongan (ikatan bibit padi yang sudah dicabut) dalam banjaran (menyebar pocongan di atas kedokan). Akhirnya penanaman di sawah, yang kesemuanya itu tidak dilakukan secara biasa oleh orang-orang seperti sekarang ini, tetapi lebih dulu mengucapkan “japa mantra”.

Waktu tanaman berumur 45 hari, sawah kekurangan air, sehingga Jaka Walangtinunu menyuruh Jaka Pandelegan menyelidiki saluran air. Ketika datang di tengah sawah, bertemulah Jaka Pandelegan dengan seorang tua yang memerintahkan kepadanya untuk memberhentikan perjalanannya. Yang kemudian membuatnya sangat murka. Dan pada detik itu pula ia akan membunuh orang tua itu. Namun ia jatuh pingsan dan menggeletak tak ingat di hadapan orang tua itu. Ketika Jaka Pandelegan sadar kembali, ia sangat takut, dan menanyakan siapakah orang tua itu. Pertanyaan itu dijawab bahwa namanya adalah Nabi Kilir, pelindung dari semua air.

Setelah itu, Nabi Kilir berkenan memberikan nama “Dukutbanyu” kepada Jaka Pandelegan, dan berkatalah: “Kalau sudah selesai bertanam, adakanlah selamatan tumpeng, apabila kamu menginginkan sawahmu berhasil baik.” Atau orang Jawa mengistilahkannya “selamatan tutup tandur”. Kemudian Nabi Kilir menghilang tanpa bekas.

Ketika Dukutbanyu alias Jaka Pandelegan datang kembali ke sawah esok harinya, ternyata sawahnya sudah penuh air dan padinya tumbuh baik. Sampai panen.

Menurut sahibul hikayat tentang pemotongan padi, karena luasnya sawah dan baiknya jenis tanaman. Orang-orang dari segala penjuru datang ke sana ikut serta derep padi. Malahan diceritakan, bagian muka sedang dipanen, maka belakangnya tumbuh lagi, kelihatan ada padi-padi yang menguning. Sehingga tidak ada habis-habisnya untuk memanennya.

Adapun hasil panenan ditumpuk di pegagan (lapangan) tepat berdirinya Candi Pari sekarang ini dan betapa banyaknya tumpukan padi yang dipanen.

Sementara waktu kemudian, Kerajaan Majapahit mengalami kekurangan bahan makanan, pertanian gagal, banyak petani yang sakit, gudang-gudang (lumbung) dalam keraton yang biasanya berisi padi menjadi kosong, karena sangat luasnya sawah yang terkena penyakit.

Ketika Prabu Brawijaya mendengar bahwa di Kedung Suko berdiam seorang arif yang memiliki padi banyak, maka diperintahkan kepada Patih untuk memintakan penyerahan padi dan dibawakan perahu-perahu yang banyak sekali dan dilabuhkan di sungai, arah tenggara Kedung Suko.

Jaka Walangtinunu juga bersedia menyerahkan padinya kepada utusan Sang Prabu, dan padi-padi diangkut ke tebing sungai untuk selanjutnya dimuat dalam perahu-perahu yang banyak jumlahnya itu, tetapi ternyata tidak sampai muat semua. Sehingga saking banyaknya padi yang telah disediakan/ada di tebing, sehingga tempat itu akhirnya dinamakan: Pamotan.

Setelah perahu-perahu penuh, lalu dipersembahkan kepada Sang Prabu Brawijaya dan diterima dengan suka cita. Dan menanyakan kepada Patih, siapakah pemilik padi itu? Maka dijawabnya: “Bahwa pemiliknya bernama Jaka Walangtinunu, anak seorang janda Ijingan”.

Seketika itu juga teringat oleh Sang Prabu, bahwa ia pernah berhubungan dengan Nyai Randa (janda) yang dimaksud. Tetapi hal tersebut hanya disimpan dalam hati. Dan menitahkan untuk memanggil Jaka Walangtinunu dengan istri. Titah tersebut dipenuhi dan segera menghadap Sang Prabu.

Setelah diamat-amati dengan seksama, maka benarlah, Jaka Walangtinunu adalah putra Sang Prabu.

Selanjutnya ditanyakan pula siapakah temannya di Kedung Suko, dijawablah bahwa kawan itu bernama Jaka Pandelegan, yang dianggap sebagai adiknya dan asal mulanya dari ikan deleg (sebagaimana sudah diceritakan terlebih dahulu).

Kemudian Sang Prabu mengutus Patih untuk memanggil Jaka Pandelegan beserta istri dengan maksud akan dinaikkan derajatnya dengan tambahan imbalan, manakala tidak bersedia supaya dipaksa, tetapi jangan sampai menimbulkan cedera pada badannya. Bahkan jangan sampai menyebabkan kerusakan pada pakainnya.

Sebelum perintah itu disampaikan kepadanya, Jaka Pandelegan sudah merasa akan mendapat panggilan, akan tetapi tidak mungkin dipenuhi, dan hal itu dipertimbangkan dengan istrinya.

Ketika Patih datang menyampaikan panggilan termaksud Jaka Pandelegan menolak. Sekalipun dipaksa, demi pelaksanaan panggilan itu namun ia tetap membangkang. Yang selanjutnya ia menyembunyikan diri di tengah-tengah tumpukan padi di pegagan, dan sewaktu ada usaha untuk mengepungnya, maka ia menghilang tanpa bekas.

Sehilangnya sang suami, Dewi Lara Walangangin yang membawa kendi berpapasan dengan Patih di suatu tempat. Sewaktu akan dipegang untuk ditangkap, berkatalah ia: “Biarkan saya lebih dulu mengisi kendi ini di sumur arah barat daya pegagan itu!” dan pada saat di sebelah timur, maka hilanglah juga si istri itu.

Setelah suami istri tersebut hilang, Patih pulang kembali untuk melaporkan peristiwa tersebut di hadapan Sang Prabu.

Mendengar kejadian itu Sang Prabu sangat kagum atas kecekatan Jaka Pandelegan alias Dukutbanyu.

Pada akhirnya Sang Prabu mengeluarkan suatu perintah sebagai tanda untuk mengenang peristiwa itu. Maka dibangunlah 2 candi, yang di mana ditempatkan di mana Jaka Pandelegan menghilang dengan nama: Candi Pari. Dan yang lainnya di tempat bekas hilangnya Dewi Lara Walangangin dengan nama: Candi Sumur.

Sumber Cerita: Laporan J. Knebel dalam RAPORTEN VAN DE COMISSIE IN NEDERLANDSCH INDIE VOOR OUDHEIDKUNG ONDERZOEK OP JAVA EN MADOERA ((1905-1906), dalam buku “Tentang Candi dan … Sejarah Candi Pari” oleh Drs. H. Soekarno (2015) serta disadur oleh admin website berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan (2017)). 

Tutup