• 1-800-123-789
  • info@webriti.com

Ilmiah

Candi?

Apa itu candi?

Banyak orang sudah tahu bahkan sering datang melihat candi, baik ketika berlibur, maupun untuk kepentingan lainya. Namun tidak semua orang mengerti secara benar apa itu candi, untuk apa, siapa pembuatnya, dan rahasia apa dibaliknya. Untuk menjawab pertanyaan sederhana itu perlu ada paparan tersendiri, agar pengertiannya atau makna sebuah candi menjadi jelas.

Candi berasal dari kata Candhika Grha artinya: rumah Dewi Candika. Dewi Candika, itu merupakan Dewi Maut, Dewi Pencabut Nyawa. Maka oleh pemeluk agama Hindu, Dewi ini dipuja, maksudnya, agar sang Dewi tidak gampang begitu saja mencabut nyawa seseorang. Dan bagi umat Hindu, pemujaan Dewi Candika karena takut akan kematian atau bahkan kalau meninggal, mohon pertolongan dari Dewi Candika, agar terbebas dari siksa Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu setiap candi selalu diisi dengan berbagi perlengkapan, terutama patung, sebagai perwujudan dan Dewa yang di pujanya. Disamping peralatan upacara keagamaan lainnya (Soekarno, 2015).

Selengkapnya..

Candi adalah bangunan yang dibuat untuk memuliakan orang yang telah wafat, khusus raja dan orang-orang terkemuka. Namun yang dikuburkan di dalam bangunan candi bukanlah mayat ataupun abu jenazah melainkan bermacam-macam benda, seperti potongan-potongan berbagai jenis logam dan batu-batu mulia, yang disertai dengan sesaji. Benda-benda tersebut dinamakan pripih dan dianggap sebagai lambang zat-zat jasmaniah raja yang telah bersatu kembali dengan dewa penitisnya. Pripih ditaruh dalam sebuah peti batu yang diletakkan di dasar bangunannya. Di samping itu dibuatkan patung yang mewujudkan raja sebagai dewa. Patung ini menjadi sasaran pemujaan bagi mereka-mereka yang hendak memuja raja yang dicandikan. Candi sebagai semacam pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu. Sedangkan candi dalam agama Budha difungsikan sebagai tempat pemujaan dewa. Di dalamnya tidak terdapat pripih, arcanya juga tidak mewujudkan seorang raja. Abu jenazah, juga dari para biksu yang terkemuka, ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa (Harianti dkk, 2007).

Candi Pari

Gambar 1. Candi Pari lama sebelum pemugaran (foto sekitar tahun 1980-an)

Candi Pari dibangun di Desa Candi Pari, Kec. Porong, Kab. Sidoarjo, Prov. Jawa Timur pada tahun 1293 saka atau 1371 M pada jaman kerajaan Majapahit, masa pemerintahan Hayam Wuruk (Soekarno, 2015).

Candi Pari ditemukan tanggal 16 Oktober 1906. Saat ditemukan dalam keadaan rusak berat. Dindingnya banyak yang keropos karena dimakan usia. Bagian atas candi (mahkota) sebagian runtuh dan batu merahnya berserekan di tanah. Pernah dipugar langit-langit pintunya disangga dengan kayu agar bisa tegak. Tahun 1994-1999 dipugar lagi oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kanwil Depdikbud) dan SPSP sekarang menjadi BPCB atau Balai Pelestarian Cagar Budaya Prov. Jawa Timur. Sehingga sekarang menjadi candi yang megah dan kokoh (Soekarno, 2015).

Candi Pari merupakan salah satu candi yang berukuran besar, yaitu 16,86 m x 14,10 m dan tingginya mencapai 13,40 m terbuat dari batu merah. Bentuknya agak utuh dibanding dengan candi-candi lainnya di Sidoarjo. Berpola candi Khmer (Birma) dan Campa (Thailand), bentuknya gemuk berbeda dengan candi-candi Majapahit lainnya, yang di mana bentuknya kurus meruncing. Contohnya Candi Bentar di Mojokerto dan lain-lain (Soekarno, 2015). Berdasar hubungan yang baik antara Majapahit dan Campa tentu saja menimbulkan pengaruh atas masing-masing kerajaan. Dalam hal ini pengaruh tersebut nampak pada Candi Pari. Pengaruh tersebut tampak dari segi bentuk dan ornamentasinya (Sari, 2017).

Gambar 2. Tampilan Candi Pari terbaru (diambil pada tanggal 20/08/17)

Candi Pari dibangun di daerah pertanian yang subur, sebelah utara sungai porong, di mana daerah tersebut mengalir sungai Lajuk, terletak sekitar 400 m disebelah selatan dari lokasi candi dan juga sungai Pamotan, kedua sungai tersebut merupakan anak sungai Porong. Dengan keadaan tanah yang dialiri oleh sungai-sungai, maka wilayah porong terdapat sumber air sumur yang permanen, tidak pernah kering sepanjang tahun (Soekarno, 2015). Memang dalam menetukan lokasi pendirian sebuah candi faktor kesuburan tanah dan sumber air, menjadi syarat utama, disamping posisi laut dan gunung. Serta juga riwayat kesuburan tanah menjadi daya tarik manusia untuk bermukim di sekitar Candi Pari (Ismayana dkk, 2014). Tak heran sekarang Desa Candi Pari begitu padat pemukiman hingga 12 RT dengan total luas wilayah ± 107,625 Ha dan terdapat lahan pertanian yang luas yang berada di RT 06, antara RT 04 dan 05, serta antara RT 11 dan 12.

Candi Pari, dibangun di atas batur (kaki atau fondasi), berbentuk persegi empat, bagian ke barat menjorok ke depan (agak memanjang) sehingga wujudnya seperti panggung, dan di samping kiri-kanan dan belakang agak sempit. Dan memiliki tangga untuk masuk ke dalam candi. Tepi pradhaksinapatha yaitu tempat untuk mengelilingi candi sebelum memasuki bilik pada Candi Pari jika dilihat dari lebarnya tepi ini kemungkinan memiliki fungsi praktis yaitu untuk mengelilingi candi. Sedangkan jika dibandingkan dengan Candi Rimbi tepi ini memiliki fungsi simbolis yaitu untuk membaca relief (Hermanto, 2013). Dalam Soekarno (2015) dijelaskan jika memang dalam upacara keagamaan saat itu, umat Hindu sebelum sembahyang “hatur sembah” kepada sang raja harus mengitari candi sebanyak 3 kali melalui jalur kiri setelah itu baru masuk ke ruangan candi.

Ruangan candi (bilik candi) merupakan tatanan hasil pemugaran BPCB Trowulan. Dengan menggunakan batu lama susunan lantai asli masih tampak, ukuran bilik 6 x 6 m. Mahkota candi sebagian telah runtuh, dengan ukuran panjang 18,86 m dan lebar 14,10 m. Sedangkan tingginya 13,40 m. Bilik diberi ventilasi masing-masing 2 buah. Kecuali dinding pintu sebelah barat. Dinding luar seluruhnya tanpa relief, tidak seperti Candi Jayaghu (Jago) Malang atau Candi Jawi di Prigen, Pasuruan yang dindingnya banyak dihiasi relief (Soekarno, 2015).

Dalam ruangan candi ada 3 buah patung kecil. Dua patung sama, yakni tubuh tanpa kepala, dan satunya lagi patung separuh badan yang hanya utuh paha-kakinya saja. Dan disandarkan pada dinding dalam sebelah timur. Dan di sebelahnya terdapat pripih yaitu kotak batu segi empat dengan 9 lubang segi empat. Pripih ini untuk menyimpan abu jenazah. Jenazah siapa? Belum ada keterangan yang jelas. Di samping abu jenazah dalam pripih itu, dahulu disimpan perhiasan yang dipakai oleh sang raja waktu itu. Di dinding timur ruangan masih tampak jelas bentuk latar belakang sebuah patung, namun patungnya sudah tidak ada di situ karena disimpan di museum pusat Jakarta (Soekarno, 2015).

Gambar 3. Patung dan Pripih di dalam Candi Pari

Patung-Patung

Sekarang ini, di sekitar Candi Pari tidak terdapat satu pun patung. Tetapi pada jaman dahulu telah ditemukan banyak patung di sekitar daerah Candi Pari, antara lain: Desa Lajuk (sebelah barat Desa Candi Pari); Desa Kebakalan; Dusun Kedungkampil (selatan Desa Candi Pari); Desa Panggreh (Kec. Jabon); dan Desa Rejeni (Kec. Krembung). Yang di mana ditemukan: 2 buah arca Mahadewa Siwa; 2 Siwa Guru; 7 arca Ganesha; 3 arca Budha; 2 arca yang tidak dikenal; 2 patung bateng; dan 1 buah bekas saluran air (hasil penelitian Knebel th. 1996, dalam Soekarno, 2015). Dan dalam pripih ditemukan 4 kalung emas serta gelang bahu 2 buah. Semuanya disimpan dalam Museum Pusat Jakarta. Yang tersisa dalam ruangan candi sekarang hanya ada sebuah patung kecil tanpa kepala (kepalanya diriwayatkan hilang karena serangan tentara Demak).

Tubuh Candi

Tubuh Candi Pari membentuk dinding candi berukuran segi empat. Sehingga Candi Pari kelihatan gundek (gemuk pendek), tidak seperti candi-candi yang berbentuk vertikal. Sebenarnya bentuk arsitektur candi seperti ini bukan tanpa pertimbangan religi atau filosofis. Perlu diingat bahwa dalam budaya Jawa, apabila membuat sesuatu tidak lepas dari simbol-simbol, makna-makna, isyarat-isyarat. Tubuh candi yang gemuk pendek tersebut dimaknakan wujud tumpukan padi, sebagai lambang kemakmuran. Dan dengan batur mekar, tubuh candi menjadi gemuk berisi. Sedangkan atap (mahkota) candi tinggi meruncing, sehingga Candi Pari persis tumpukan padi (Soekarno, 2015).

Pada tubuh Candi Pari, terutama pada dinding kanan-kiri dan belakang agak keatas terdapat semacam relief tinggi, ada sangka bersayap, ini menunjukkan fungsi candi sebagai pendharmaan (Soekarno, 2015). Sangka bersayap berada di atas relung di kiri-kanan sisi tubuh candi. Memang hanya itulah relief yang ada di Candi Pari. Meskipun demikian Candi Pari ini nampak megah, kokoh, meskipun pada dindingnya banyak batu merahnya yang keropos. Karena dimakan usia akibat pengaruh air tanah yang agak asin dan terserap oleh batu-batu candi. Dan air yang asin memiliki kandungan sulfat dan ion klorida yang di mana dapat menimbulkan korosi/pengereposan (Anggraini dkk, 2011). Meskipun demikian, kualitas batu merah ini lebih baik dari pada batu merah buatan sekarang. Batu merah candi tidak berubah warna sampai ratusan tahun karena tahan lumut, sehingga warnanya tidak cepat berubah menjadi kusam dan kotor serta lebih kuat dengan air asin dibanding batu buatan sekarang. Mungkin batu merah buatan dahulu benar-benar diperhatikan bahan serta cara pembuatannya. Berbeda dengan sekarang yang lebih mengutamakan kuantitas karena pertimbangan ekonomi. Sehingga batu merah buatan dahulu lebih memiliki kandungan kaolinite. Yaitu kandungan yang memiliki sifat tidak dapat menyerap air sehingga tidak muncul lumut (Huda & Erna, 2012).

Gambar 4. Relief tembok samping Candi Pari (foto kiri adalah sisi sebelah utara dan kanan adalah sisi  sebelah selatan)

Pintu Candi

Gambar 5. Pintu masuk ke Candi Pari

Pintu candi yang lebarnya hanya 70 cm kelihatan sempit. Mengapa sempit? Karena dalam tata cara memasuki candi harus satu-satu berurutan. Tidak boleh bersamaan. Apalagi di kanan-kiri pintu dibangun semacam pilar (kosen/kusen) tebal, dan di atas pintu disangga balok batu andesit untuk menahan dinding dan atap candi. Di kusen pintu bagian atas bertuliskan angka tahun berdirinya Candi Pari dengan memakai huruf jawa kuno. Di atasnya lagi dibentuk semacam atap pintu berbentuk segitiga (gewel), sayang bentuk atap ini dibeberapa bagiannya sudah rusak, sehingga bentuk aslinya yang indah menjadi kurang. Untuk memasuki pintu harus melewati 5 anak tangga. Dan menurut adat kesopanan memasuki candi, sebelum naik ke pintu harus berjalan keliling candi dimulai dari sisi kiri lewat selasar sebanyak tiga kali putaran. Di atas pintu candi ini tidak terdapat kala (patung berwajah raksasa). Juga di kanan-kiri pintu tidak dipasang makara (patung hewan).

Atap (Mahkota) Candi

Gambar 6. Atap Candi Pari

Atap candi ini bagian atas runtuh. Ada hipotesa yang mengatakan bahwa runtuhnya pucuk atap candi adalah karena disambar petir, gempa bumi, atau keropos karena sinar matahari terus menerus serta air hujan. Reruntuhan batu merah itu sekarang ditumpuk diletakkan di halaman depan candi. Atap candi berbentuk “amluntah” yang masing-masing tepinya dihias motif sumber dan menara-menara kecil. Apabila diperhatikan dengan seksama, atap candi ini mirip dengan gaya Khmer (Campa). Dan hal tersebut bisa saja terjadi mengingat hubungan Majapahit dan Kerajaan Campa pada saat itu amat baik. Bahkan Putri Campa yang beragama Islam menjadi istri Hayam Wuruk pada awal abad ke-15. Dan makam Putri Campa berada di Trowulan, Mojokerto. Orang-orang menyebutnya: Makam Putri Cempo.

Gambar 7. Ilustrasi atap candi

Dan dapat diimajinasikan seperti gambar 7 bahwa bentuk Candi Cangkuang di Garut, Jawa Barat merupakan candi Hindu. Dan kalau kita perhatikan bentuk dasarnya sama dengan Candi Pari. Sehingga bangunan atapnya dapat kita imajinasikan sama. Hal ini sebagai ciri candi Hindu (Soekarno, 2015).

Halaman Candi

Gambar 8. Candi Pari pada tahun 1994 sebelum dipugar seperti sekarang

Sebelum dipugar, bentuk candi ini maupun halamannya tidak teratur. Kondisi batu merah baik di batur, di umpak (alas tiang), dinding maupun atap banyak yang keropos dimakan usia. Bahkan sebagian dindingnya bolong-bolong. Batu merahnya berserekan di sana-sini sehingga untuk mendatanginya saja agak malas. Pengunjung tetapnya hanya orang-orang yang menyukai dunia supranatural. Biasanya datang pada hari Kamis malam Jum’at Legi untuk mengadakan upacara ritual di dalam candi sambil “suguh” dan berdoa dengan membakar kemenyan. Rumputnya juga tumbuk tak teratur, sampah-sampah berserakan, ditambah dengan batu merah reruntuhan atap candi juga berserakan di sana-sini. Pohon beringin yang ditanam di sudut kiri barat halaman juga menumpuk daun keringnya (Soekarno, 2015).

Gambar 9. Kondisi Candi Pari terbaru (20/08/17)

Tetapi setelah dipugar tahun 1994 kemudian 1999 kondisi candi nampak megah berwibawa. Halamannya bersih dan ditanami berbagai jenis tanaman hias. Batu merah reruntuhan candi yang dulu berserakan dikumpulkan dan ditata di halaman candi bagian depan, berhadapan pagar pintu masuk halaman. Di sudut utara barat juga dibangun kantor juru kunci dan kamar kecil untuk pengunjung. Dan juga ini menunjukkan jika betapa dirawatnya Candi Pari ini. Ini terlihat dari kondisi candi yang amat elok dipandang. Hal ini juga berkat bimbingan dan perhatian dari BPCB Trowulan, Mojokerto (Soekarno, 2015). Namun sayangnya pohon Beringin yang rindang dan sejuk di sudut kiri barat halaman itu ditebang saat pemugaran, entah mengapa. Halaman candi yang luas juga menyatu dengan fungsi candi, yaitu sebagai tempat upacara keagamaan.

Gambar 10. Kondisi relung terbaru saat ini dekat kantor juru kunci, dan relung ini sebagai simbol kemakmuran (Soekarno, 2015)

Candi Pari merupakan simbol tumpukan padi, benarkah?

Candi Pari yang gemuk pendek (gundek) dengan bentuk atap yang meruncing, merupakan gambaran tumpukan padi bergagang. Para petani di daerah ini apabila menuai padi menggunakan suatu alat yang bernama ani-ani (semacam pisau kecil tradisional). Dan padi yang dipanen semuanya bergagang, artinya masih utuh dengan tangkainya, tidak berupa gabah (butiran padi). Dan untuk menumpuknya, beberapa ikat padi dihimpun lalu diikat sedemikian rupa sehingga menjadi “pencaran”. Satu pencar padi adalah sekumpulan ikatan padi yang dihimpun jadi satu. Setelah padi kering, dimasukkan ke dalam lumbung padi. Untuk penyimpanan sementara (karena dalam proses pengeringan), nenek moyang kita dahulu biasanya menumpuk padi di halaman rumah, bentuknya melingkar ke atas seperti kerucut. Bentuk seperti inilah yang diasosiasikan bahwa Candi Pari seperti tumpukan padi. Di samping asosiasi itu juga “dihubung-hubungkan” dengan legenda tentang Candi Pari (Soekarno, 2015).

Gambar 11. Asosiasi bahwa Candi Pari merupakan tumpukan padi

Candi Sumur

Gambar 12. Candi Sumur (20/08/17)

Dikutip dari buku hasil penelitian oleh Soekarno (2015) “Tentang Candi dan … Sejarah Candi Pari” jika Candi Sumur bukan berarti candi yang memiliki sumur. Tetapi sumur yang dibentuk candi. Dengan demikian candi ini sebenarnya adalah sebuah sumur yang terletak di dalam candi. Candi sumur dibangun bersamaan dengan Candi Pari, yaitu pada tahun 1371 M. Bahan bangunannya sama dengan Candi Pari yaitu bata merah dan letaknya ± 150 m sebelah selatan Candi Pari. Ukurannya lebih kecil karena memang hanya sumur.

Sebagian besar bangunan candi ini telah runtuh sehingga sulit dikenali bentuk aslinya. Namun ketika pemugaran, sisa dinding dalam sisi selatan dan timur terpaksa disangga dengan beton untuk menjaga agar dinding tetap tegak berdiri. Candi ini sama dengan Candi Pari, pintunya ada di sebelah barat yang artinya candi ini menghadap ke barat.

Sumur candi letaknya di tengah ruangan candi yang sempit berbentuk lubang sedalam 1 m, berbentuk segi empat berukuran ± 1 x 1 m. Kondisinya sekarang sudah tertutup tanah, sehingga sumur ini tidak seperti sumur lagi. “Dulu dalamnya 12 meter mas/mbk namun sudah ditutup pada tahun 1999 karena takut ada wisatawan yang jatuh,” ujar Pak Sagih selaku juru kunci Candi Sumur. Ada yang berpendapat bahwa sumur ini untuk menyimpan pripih, tempat menyimpan abu jenazah raja. Tetapi menurut Soekarno (2015), sumur ini untuk mengambil air suci sebelum beribadah di Candi Pari, sesuai dengan unsur candi ini adalah candi Hindu.

Gambar 13. Kondisi sumur terbaru sekarang, terlihat tertutup tanah dan banyak uang receh/kertas sebagai bentuk sedekah pengunjung (20/08/17)

Untuk menuju ke bibir sumur, harus menaiki anak tangga setinggi 2,7 m. Candi ini tetap terawat baik setelah direnovasi tahun 1994-1999. Candi sumur berdenah bujur sangkar dengan ukuran 8 x 8 m. Tingginya ± 10 m. Ukuran batur setengah tingginya candi yaitu ± 5 m. Ukuran asli candi sumur sulit diprediksi karena tingkat kerusakannya berat. Sebagai candi tunggal, tanpa patung dan relief, candi ini menunjukkan benar-benar hanya sebagai sumur yang dicandikan.

Gambar 14. Anak tangga untuk naik ke candi dan menuju sumur

Hubungan Candi Pari dengan Candi Sumur

Kedua candi ini merupakan satu kesatuan. Artinya antara Candi Pari dan Candi Sumur memiliki fungsi dan nilai keagamaan yang sama. Menurut penelitian jaman Belanda, Candi Pari merupakan candi utama dari percandian yang ada di Desa Candi Pari. Menurut penelitian tersebut, komplek Candi Pari dikelilingi oleh pagar tembok, gapura, dan teras. Dengan demikian Candi Pari bukan merupakan candi tunggal. Tentang pagar tembok candi, kata Soekarno (2015): “Saya teliti pagar tembok tersebut tidak ditemukan bekas-bekasnya. Rumah penduduk di sekitar candi sudah berdiri sejak jaman nenek moyang dahulu. Meskipun tidak sepadat sekarang. Dan ketika rumah-rumah ini mulai dibangun, waktu menggali tanah untuk pondasi, tidak ditemukan sisa-sisa batu candi. Meskipun demikian, analisa sederhana dapat disimpulkan bahwa areal pemakaman Desa Candi Pari terletak di tengah-tengah agak ke barat antara Candi Pari dan Candi Sumur. Dan tanah makam tersebut agak tinggi, bisa saja itu merupakan halaman komplek candi. Di dalam makam tersebut, terdapat pula makam kuno, dibuat sebelum Candi Pari dibangun. Dan diyakini oleh penduduk setempat sebagai makam “orang yang mbabat hutan” Desa Candi Pari.”

Secara keagamaan, Candi Pari dipakai sebagai tempat peribadatan. Sedangkan Candi Sumur dipakai sebagai tempat mengambil air suci sebagai sarana pensucian diri bagi umat Hindu yang akan melakukan upacara ritual.

Meneliti candi tidak hanya melihat candi secara fisik semata. Namun harus lebih dari itu. Terutama letak candi. Dalam membangun sebuah candi selalu memakai berbagai pertimbangan. Terutama kondisi alam dan sekitarnya. Misalnya letak ketinggian tanah, dekat sumber air, dan sesuai dengan petunjuk Dewata Agung (Tuhan YME). Juga kondisi sosial budaya masyarakat setempat misalnya ketaatan terhadap ajaran agama dan kepatuhan penduduk terhadap titah raja. Sebab menurut keyakinan yang berlaku saat itu, antara Dewa dan Raja adalah satu. Dalam arti “manugaling rasa” dan “manungaling cipta” atau “satu rasa, satu ciptaan” (Soekarno, 2015).

Dan sebagai cagar budaya, pelestariannya perlu diperhatikan. Maka setiap upaya perusakan atau hal-hal lainnya yang bisa menghilangkan nilai-nilai kesejarahan sebuah candi harus dicegah. Pelestarian semua cagar budaya menjadi tanggung jawab kita semua. Karena setiap peninggalan sejarah mengandung nilai-nilai religi dan sosio-kultural yang amat kental.

Daftar Pustaka:

Anggraini, Retno, Herlien Indrawahyuni, Prastumi, Agoes SMD, Lilya Susanti, Saifuddin Akhmad. 2011. Pengaruh Variasi Campuran dan Lama Perendaman Spesi dalam Air Laut Terhadap Kuat Tekan dan Kedalaman Intrusinya. Malang: Universitas Brawijaya.

Harianti, M. Pd., V. Indah Sri P., M. Si., Sudrajat, S. Pd. 2007. Laporan Hasil Penelitian: Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Sekitar Candi Terhadap Candi dan Upaya Pelestariannya. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Hermanto, Muhammad. 2013. Arsitektur dan Fungsi Candi Pari dengan Candi Rimbi pada Masa Majapahit (Architecture and Function of Rimbi Temple with Pari Temple in The Majapahit Age). Jurnal Genta Vol. 1 No. 1, April 2013 ISSNL: 2337-9707. Sidoarjo: STKIP PGRI Sidoarjo.

Huda, Miftakhul, Erna Hastuti. 2012. Pengaruh Temperatur Pembakaran dan Penambahan Abu Terhadap Kualitas Batu Bata. Jurnal Neutrino Vol. 4  No. 2, April 2012. Malang: Universitas Islam Negeri Maliki Malang.

Ismayana, I Ketut, Agung Murti Nugroho, Jenny Ernawati. 2014. Aspek Kekerabatan dan Budaya Terhadap Pembentukan Permukiman Dusun Candi Pari Wetan  Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Perspektif Arsitektur Vol. 9 No. 2, Desember 2014. Palangka Raya: Universitas Palangka Raya.

Sari, Dewi Octavya. 2017. Anasir-Anasir Akulturasi pada Candi Pari. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Vol. 5, No. 2, Juli 2017. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya

Soekarno, Drs. H. 2015. Tentang Candi dan … Sejarah Candi Pari (Belum dipubilkasikan). Sidoarjo.  (Beliau adalah seorang ahli sejarah dan melakukan penelitian langsung terhadap hasil bukunya ini, beliau berkediaman di Desa Wunut, timur Desa Candi Pari).

Candi Pari, Kabupaten Sidoarjo

Tutup